"Ketika kita memutuskan berhenti memikirkan sesuatu,
seseorang, maka memang tidak otomatis sesuatu itu jadi benar-benar
hilang dari kepala. Tapi niat yang kokoh, kesibukan, akan membuatnya
berkurang signifikan" - Darwis Tere Liye
Temen gue pernah nanya kenapa gue hobi banget nulis-nulis ga jelas di tumblr. Salah satu alasan kenapa gue suka nulis di tumblr ketimbang media yang lainnya adalah karena gue lahir di tahun 90an, dimana generasi ini tumbuh seiring perkembangan teknologi. Dan sekarang gue hidup di abad ke 21 yang segalanya serba online (belanja online, transfer online, pacaran online, berak online) makanya gue nulis di blog (tumblr). Kalo gue hidup di jaman Kerajaan Majapahit, ya gue bakal buat pahatan di batu prasasti.
"Tapi lu kok beda banget dengan aslinya ?"
"Maksud lo ? gue kaya barang dagangan di online shop gitu ? aslinya beda dengan foto ?"
"Bukaaann… tulisan lo di tumblr itu kadang-kadang mehek-mehek lebay gitu, sok bijak, lucu. Kalo lo di kehidupan nyata kan lo ituganteng maut, berkarisma, rajin bersedekah, agak pendiem, rada jaim, nyebelin.”
"Maksud lo ? gue kaya barang dagangan di online shop gitu ? aslinya beda dengan foto ?"
"Bukaaann… tulisan lo di tumblr itu kadang-kadang mehek-mehek lebay gitu, sok bijak, lucu. Kalo lo di kehidupan nyata kan lo itu
Sebenernya gini, gue sendiri yakin kalo setiap orang pasti punya
tempat dimana dia bisa cerita apapun dan jadi dirinya sendiri. Misalnya
sewaktu curhat sama sohib yang kelakuannya sama-sama minusnya, atau pas
ngobrol sendirian dengan sisir rambut di kamer, bisa juga sewaktu
merenung meratapi nasib di bawah kucuran shower, atau bahkan sewaktu
monolog di depan pohon mengkudu di tengah taman komplek.
Kalo gue ya di tumblr ini, gue bisa nulis sekaligus mendokumentasikan
apapun yang gue pikirin, apapun yang gue suka dan gak suka, apapun yang
bisa ngebuat gue jadi diri gue sendiri sebebas-bebasnya tanpa batasan.
Gue nulis sebebas mungkin karena gue yakin blog gue ini hampir kaga ada
yang baca, alias sepi. Bahkan lebih sepi dari hatinya Anang ketika Kris
Dayanti direbut Raul Lemos.
Follower tumblr gue aja cuma 400 (lebih dikit), temen yang gue kenal
paling cuma 10%an, sisanya cuma sesama fellow indonesian + orang luar
yang suka follow-follow gak jelas. Dan dari 400 orang itu, paling yang
baca tulisan gue cuma mahasiswa-mahasiswa yang bingung
antara-mau-ngerjain-skripsi-atau-browsing dan orang-orang yang salah
ngeklik link di dashboard tumblrnya, itupun sepertinya gak lebih dari
20an. Liat aja notesnya gak pernah lebih dari 15, sedangkan (kalo ada)
yang ngelike kayanya orang yang gak sengaja ngeklik/salah like postingan
di dashboard.
Gue jadi inget sewaktu Capacity Building
taun kemaren, pernah ada seorang mahasiswa (sepertinya) satu kompi
dengan gue mencoba ngeramal lewat garis tangan. Anak-anak
disekelilingnya ia ramal satu per satu secara sukarela, sampe akhirnya
gue. Seolah-olah memvonis, pria yang diduga gak pernah belajar Bab Qada
dan Qadar sewaktu SD ini mulai berhalusinasi dan mengatakan tentang
jodoh gue, lama hidup gue, jumlah anak, dan sampe kapan cicilan kapal
pesiar gue lunas. Menanggapi perilaku animisme/dinamisme yang seperti
ini, gue cuma senyum-senyum gak jelas supaya dia seneng. Karena yang
namanya ramalan itu cuma bisa diterima sama manusia kalo isinya bagus.
Misalnya ; jadi pengusaha ikan sapu-sapu ternama, nikah dengan Karina
Kapoor, atau jadi ganteng kaya Lee min ho. Kalo isinya jelek paling
dibilang, "Ah ramalan abal-abal ga usah didengerin". Gue
sendiri gak percaya sama ramalan masa depan lewat garis tangan. Buktinya
orang yang gak punya tangan aja masih punya masa depan. #udahputusinaja
Gilee, udah kaya Felix Miaw belum ?
Gilee, udah kaya Felix Miaw belum ?
Ngomongin soal masa depan, terutama tulang rusuk (jodoh), ternyata
google sekalipun gak bisa menjawab tentang jodoh. Kalo udah begini
berarti tandanya gue harus lebih rajin beribadah, karena Tuhan adalah
tempat bertanya paling ampuh ketika google gak mampu lagi untuk
ngejawab. Tapi bagi gue pribadi, salah satu alasan kenapa gue masih
single bukan karena gue gak laku, tapi karena cewe-cewe di Cirebon gak ada yang mau punya standar yang aneh untuk milih cowo.
Sebenernya (masih) hilangnya tulang rusuk ini lebih dikarenakan gue
yang terlalu malas melancarkan agresi-agresi kalbu ke lawan jenis dan
ngikutin gaya pacaran ABG jaman sekarang dengan siklus
“kenalan-pdkt-jadian-marahan-putus-pura pura gak kenal” yang berulang
seperti lingkaran setan. Gue sendiri lebih suka yang one-shot-one-kill + long lasting sampe beruban. Bukan gaya pacaran yang tiap 5 hari putus, bahkan batere Esia Hidayah aja bisa tahan lebih lama dari itu.
Belum lagi kalo putus, gue paling males ngejelasin kronologinya ke
semua temen-temen yang nanya, seolah-olah itu kewajiban gue kepada
mereka. Mending kalo temen gue sedikit, lah ini temen gue minimal ada 1
batalyon di tiap kecamatan. Ada temen nongkrong, temen kampus, temen
pengajian, temen farmville, temen ngadu ikan cupang, dan temen maen
gimbot. Bayangin aja kalo 1 orang 15 menit, dibutuhin berapa siklus
bulan purnama baru kelar ? itupun kalo alesan putusnya simple, semisal ‘Cewek gue naturalisasi jadi warga negara Zimbabwe’.
Gak perlu penjelasan lain, karena gak akan ada upaya hukum yang bisa
diperbuat supaya balikan lagi. Kalo alesannya karena selingkuh, apalagi
kalo selingkuhnya sama sahabat sendiri, pasti seru dan menggebu-gebu.
Misalnya kalo kita jawab dengan alasan seperti ini, 'Pacar gue ternyata gak setia, dia lebih milih pergi sama suaminya ketimbang sama gue yang jelas-jelas pacarnya'.
Penjelasannya untuk alesan bego kayak gini minimal 1 orang 30 menit,
Itu aja baru pendahuluan, belum ngejelasin data dan fakta, pokok
permasalahan, terus pembahasan. Loh ?
Sebenernya, mereka-mereka yang nanya kronologis putus itu bukan karena peduli atau pengen ngasih solusi untuk move-on,
tapi mereka cuma pengen memuaskan rasa ingin tau/penasaran mereka aja.
Jadi, kalo ada yang nanya kenapa lu bisa putus, jangan pernah jawab
karena selingkuh atau jawaban yang mengundang syahwat untuk bertanya
lebih jauh. Lebih baik diem, karena diem itu emas. Emas itu kuning,
kuning itu tinja. Jadi diem-diem malah cepirit.
Bagi satu-satunya makhluk hidup yang harus bayar untuk hidup di bumi,
pasca putus adalah masa-masa terkelam dari siklus pertinjaan.
Pacarannya cuma 5 hari, tapi move-onnya bisa sewindu, padahal cuma LDRan. Pffttt…
Bedanya pasca putus buat cowo dan cewe adalah perubahan ekspresi wajah setiap waktunya.
Sehari setelah putus, biasanya cowo itu paling bahagia karena dengan kedongoannya dia berpikir bahwa dia telah bebas, keluar dari penjara perbudakan bangsa wanita dan lebih memilih ngegame atau pesta bujang dengan temen-temennya. Sedangkan wanita biasanya paling sedih karena ditinggalin orang yang ia pikir bakal jadi pangeran yang menjemputnya ke kahyangan dengan kuda putih, dan wanita biasanya terlalu sering overthinking kesalahan selama pacaran.
Seminggu setelah putus, cowo dan cewe sama-sama dalam keadaan galau lanjutan. Bedanya, galaunya cewe ini lebih ke arah yang lebih baik dimana cewe sedang meyakinkan dirinya bahwa putus adalah yang terbaik buatnya dan segera mencari kesibukan lain sebagai upaya untuk move-on. Hal ini bisa diliat dari quote-quote yang sering di retweet/reblog/repath di akun socmednya. Meskipun berada dalam fase yang sama, sebaliknya cowo menjadi lebih galau dan rentan terhadap lagu-lagu melow dan sedih, yang tadinya suka dengerin Metalica dan Dream Teather tetiba berubah jadi suka lagunya Desi Ratnasari dan Cici Faramida. Tiap ke kamer mandi bawaanya pengen selonjoran di bawah shower seharian, mikirin nasib kenapa berubah makin syurem setelah putus dengan si doi. Mikirin kenapa dia bisa dengan segitu bahlulnya mutusin cewe yang udah 5 hari jadi pacarnya. Dan sekali lagi, mikirin sekaligus berkhayal seandainya kali ini mereka masih jadian dan pacaran di atas sekoci penyelamat kaya di ending Pacific Rim.
Sebulan kemudian pihak cewe udah 90% move on, ekspresi wajahnya lebih ceria daripada mahasiswa yang baru lulus sidang skripsi. Biasanya mereka kembali ke habitat asalnya berkumpul dengan sohib lamanya. Kerjaanya tiap hari hang out, karokean, dan makan-makan sampe gendut yang akhirnya sedih lagi ketika liat timbangan naik 8 kilo. Sedangkan keadaan berbalik 540 derajat buat si Cowo, dalam fase ini pihak cowo berada dalam titik terlemah, rentan, dan rapuh, jauh lebih rapuh dari Superman yang kebeset tusuk konde yang terbuat dari batu Kriptonite. Setiap ada lagu galau seringkali liriknya dikait-kaitkan dengan kepergian si doi, bahkan ketika ngedengerin Dangdut pantura edisi goyang Karawang serasa dengerin The Script - The Man Who Can’t be Moved. Hobinya pun berubah, yang tadinya doyan futsal akhirnya memutuskan beralih ke cabang atletik lari, lari dari kenyataan. Yang tadinya kuat 16 jam ikut Uka-uka, berubah jadi pengecut ketika ngeliat sekelebat bayangan yang lewat. Waktu ditanya Hari Panca kenapa melambaikan tangan ke kamera, 'Saya ngeliat bayangan masa lalu, mas', jawabnya sambil ngelap air mata. Tiap keluar rumahpun selalu bawa payung padahal musim panas, katanya takut dihujani kenangan masa lalu. Tiap dapet friend request di fesbuk mendadak punya disleksia, tulisan dibawah nama jadi kebaca “3 Mantan yang sama”.
Sehari setelah putus, biasanya cowo itu paling bahagia karena dengan kedongoannya dia berpikir bahwa dia telah bebas, keluar dari penjara perbudakan bangsa wanita dan lebih memilih ngegame atau pesta bujang dengan temen-temennya. Sedangkan wanita biasanya paling sedih karena ditinggalin orang yang ia pikir bakal jadi pangeran yang menjemputnya ke kahyangan dengan kuda putih, dan wanita biasanya terlalu sering overthinking kesalahan selama pacaran.
Seminggu setelah putus, cowo dan cewe sama-sama dalam keadaan galau lanjutan. Bedanya, galaunya cewe ini lebih ke arah yang lebih baik dimana cewe sedang meyakinkan dirinya bahwa putus adalah yang terbaik buatnya dan segera mencari kesibukan lain sebagai upaya untuk move-on. Hal ini bisa diliat dari quote-quote yang sering di retweet/reblog/repath di akun socmednya. Meskipun berada dalam fase yang sama, sebaliknya cowo menjadi lebih galau dan rentan terhadap lagu-lagu melow dan sedih, yang tadinya suka dengerin Metalica dan Dream Teather tetiba berubah jadi suka lagunya Desi Ratnasari dan Cici Faramida. Tiap ke kamer mandi bawaanya pengen selonjoran di bawah shower seharian, mikirin nasib kenapa berubah makin syurem setelah putus dengan si doi. Mikirin kenapa dia bisa dengan segitu bahlulnya mutusin cewe yang udah 5 hari jadi pacarnya. Dan sekali lagi, mikirin sekaligus berkhayal seandainya kali ini mereka masih jadian dan pacaran di atas sekoci penyelamat kaya di ending Pacific Rim.
Sebulan kemudian pihak cewe udah 90% move on, ekspresi wajahnya lebih ceria daripada mahasiswa yang baru lulus sidang skripsi. Biasanya mereka kembali ke habitat asalnya berkumpul dengan sohib lamanya. Kerjaanya tiap hari hang out, karokean, dan makan-makan sampe gendut yang akhirnya sedih lagi ketika liat timbangan naik 8 kilo. Sedangkan keadaan berbalik 540 derajat buat si Cowo, dalam fase ini pihak cowo berada dalam titik terlemah, rentan, dan rapuh, jauh lebih rapuh dari Superman yang kebeset tusuk konde yang terbuat dari batu Kriptonite. Setiap ada lagu galau seringkali liriknya dikait-kaitkan dengan kepergian si doi, bahkan ketika ngedengerin Dangdut pantura edisi goyang Karawang serasa dengerin The Script - The Man Who Can’t be Moved. Hobinya pun berubah, yang tadinya doyan futsal akhirnya memutuskan beralih ke cabang atletik lari, lari dari kenyataan. Yang tadinya kuat 16 jam ikut Uka-uka, berubah jadi pengecut ketika ngeliat sekelebat bayangan yang lewat. Waktu ditanya Hari Panca kenapa melambaikan tangan ke kamera, 'Saya ngeliat bayangan masa lalu, mas', jawabnya sambil ngelap air mata. Tiap keluar rumahpun selalu bawa payung padahal musim panas, katanya takut dihujani kenangan masa lalu. Tiap dapet friend request di fesbuk mendadak punya disleksia, tulisan dibawah nama jadi kebaca “3 Mantan yang sama”.
Bagi sebagian orang, Move-on adalah fase tersulit ketika
dewasa, tau kenapa? soalnya sejak SD kita selalu ditekankan untuk pandai
menghapal dan gak boleh lupa terhadap sesuatu yang (pernah) penting
buat kita, gak heran ketika putus galaunya bisa gak selese sampe 7
purnama.
Move-on itu emang susah, kalo ada yang bilang move on itu gampang either he is a liar or he is suffering from alzheimer’s. Kunci
move-on itu sebenernya cukup mengihklaskan masa lalu plus menerimanya
sebagai bagian dari hidup kita. Sesekali masa lalu emang tempat yang
enak buat dikunjungin, tapi kalo hidup di dalem kenangan masa lalu yang
surem kayanya bukan jiwa pemuda Endonesa yang selalu ceria Lalala
Yeyeye~.
Masa lalu yang kelam juga seringkali menghantui kita, kenapa ? itu
karena kita pernah berusaha menguburnya. Kalo masa lalu kita emang
kelewat hitam gak perlu ditangisin, mending disemir biar mengkilap.
Kehilangan orang yang (pernah) kita sayangi gak usah dengan reaksi
berlebihan. Percayalah, ada orang yang posisinya terbaiknya emang cuma
sebagai mantan, jadi gak usah sampe ngancem minum karbol gitu. Ngemil
kamper juga udah cukup. Loh ? Kalo emang jodoh gak akan kemana, pasti ketemu lagi di pelaminan, entah sebagai mempelai atau cuma jadi tamu undangan.
Kalo rasa sayang akhirnya berubah jadi benci, seperti rasa benci
penduduk distrik kepada presiden Snow di film The Hunger Games, gak
perlu repot-repot sewa assassin/hitman cuma buat nuker potongan Bolu
pernikahan dengan yang udah dicelupin ke dalem air arsenik. Cukup dengan
menjadi sosok yang bahagia dan sukses, itu udah membunuh rasa bahagia
dan sesekali menimbulkan penyesalan yang cukup membuat keretakan di hati
mantan. Karena sesungguhnya dibalik pribadi yang sukses, terdapat
mantan yang menyesal. Bayangin ente turun dari kapal pesiar dengan
Karina Kapoor diiringi dancer profesional sambil goyang Caesar, terus
ente mendekat ke mantan ente yang lagi berdiri di samping suaminya lalu
berbisik perlahan ke telinga kanannya, "Aseek…aseekk..joss !"
Untuk lebih ngeyakinin diri sendiri dan orang lain kalo ente emang udah gila move-on,
tiap kali ente naik motor usahakan jangan pake spion. Jadi kalo ada
polisi yang mau nilang dan nanya kenapa spionnya gak dipasang, bilang
aja, ‘Maaf pak, saya udah move-on. Saya gak mau liat kebelakang
lagi. Masa lalu saya memang suram, tapi masa depan saya jauh lebih
cerah. Selamat sore, pak! ‘, sambil ngeloyor pergi lewat jalur busway.
PS : "Don’t look back, or you will miss what is in front of you"
CBN, 20131124.
Salam Ganteng,
0 comment:
Post a Comment