Sebuah Deduksi Masa Lampau

Beberapa orang mampu menghadirkan kebahagiaan ketika mereka datang, namun ada juga yang menghadirkan keceriaan begitu mereka pergi.


Pernah gak lu berharap kalo asumsi-asumsi lu terhadap suatu hal itu salah karena lu takut kebenaran yang terjadi akan lebih pait dari keliatannya. Ribet ya ? Sama, gue juga kadang gak ngerti sama tulisan sendiri.

2012 bisa dibilang tahun yang cukup istimewa, not to mention that we (human race) survived the apocalypse or knowing the fact that i’ve moved on, but karena banyak hal yang gak bisa dilupain disana. Misalnya masa-masa terakhir gue kuliah, completely move-on dari orang yang pernah gue kenal, bolak-balik revisi TA, atau kekunci di toilet tempat gue PKL dan berakhir melalui pendobrakan oleh satpam kantor dengan bantuan alat berat linggis, sampe ke prosesi Wisuda yang penuh kontroversi pembagian atribut pada Oktober kemaren dan masih banyak lagi hal lain yang kalo gue tulis dibutuhkan media seukuran baligho pilkada.

Mulai paragraf ini dan beberapa paragraf selanjutnya, gue mau cerita tentang pengalaman cinca gue yang cukup untuk membuat seorang Ade Rai berkeringat dari mata.

Oke, sekarang kita flashback ke pertengahan 2009, tepatnya beberapa bulan sebelum gue kuliah. Jadi waktu itu gue lagi suka sama cewe, sebut aja si A. Gue dengan si A kebetulan satu sekolah. Sebenernya gue kenal dia sejak pertama kali masuk SMA, yaitu waktu tes kelas Internasional yang kebetulan kita berdua sama-sama dari X.8. Bedanya; dia pinter gak ketolongan, sedangkan gue tololnya yang gak ketolongan, dia masuk kelas internasional, sementara gue mengendap seperti tape singkong di kelas reguler, dia cakepnya gak wajar, sementara gue digolongkan ke dalam spesies manusia aja masih diragukan. Setelah itu kita berdua berpisah. Gue gak sempet kenal dia, apalagi berharap dia mau kenal manusia brokoli kaya gue.

Singkat cerita 3 tahun terlewati, sekarang gue berada di masa transisi SMA-Kuliah.
Gue berterima kasih kepada Mark Zuckerberg yang telat menciptakan facebook sebagai alat untuk mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Waktu itu awal-awal gue kenal facebook, dan lewat facebook lah gue bisa kenal dengan si A lebih deket.

Jadi ceritanya si A ini lagi sedih karena putus sama cowonya yang katanya lagi deket dengan cewe lain. Disini gue datang di kehidupannya sebagai pria pelipur lara. Kaku banget ya ?

Dengan bermodal HP dan Pulsa, gue buka album kenangan dan cari tau nomer HPnya, setelah itu gempuran pertama pun dilancarkan. Beruntung, dia ngerespon percakapan gue terlepas dari faktor kasian atau gue cuma dijadiin pelampiasan semata. Intinya, percakapan via SMS semakin intense. Pagi, siang, sore, malem, SMS / telpon jalan terus seolah-olah orang tua gue Agen pulsa.

Gak ada hari tanpa ada pesan masuk dari si A, dan inbox gue akhirnya dipenuhi sama pesan-pesan dari dia. Kayaknya doi udah mulai move-on, doi udah bisa senyum selebar Omas, dan ketawa lepas seperti Sule. Disini gue ngeliat sebuah kesempatan buat masuk lebih dalam di kehidupannya, sebagai seorang pria yang bakal ngejaga hatinya. Cailah lebay bener, tong. Lu pipis aja belum lurus.

Beberapa waktu kemudian si A kuliah, begitu juga dengan gue. Sekarang jarak sejauh 530 Km memisahkan gue dengan si A dimana tatap muka langsung udah gak mungkin dilakuin lagi. Yang bisa gue usahain cuma komunikasi dari FB, SMS, telpon dan telepati. Pernah waktu itu gue nelpon dia berjam-jam dan gak sadar pulsa gue kesedot 80 rebu, besoknya gue langsung jadi sindikat mama minta pulsa.

Jarak emang semakin jauh, tapi waktu itu gue yakin perasaan gue sama dia semakin nyata, senyata benda-benda mikroskopik yang terlihat jelas melalui lensa pembesar. Gue pernah mimpiin dia, dan begitu juga dengan dia. Hebatnya, mimpi kita ternyata identik. Waktu telpon-telponan gue sendiri ngakak kalo denger ceritanya. Kalo isi ceritanya gue tulis disini, kayanya kalian langsung muntaber. Mungkin, ini cinta monyet yang paling kerasa sewaktu SMA dulu.

Tapi…
Disini ada tapinya, hubungan gue sama dia jadi aneh, doi tiba-tiba jadi jarang SMS gue duluan, balesnya juga singkat-singkat kaya dosen pembimbing yang lagi dikejer Mahasiswanya. Disini, belasan asumsi muncul di kepala gue dan mendeduksikan bahwa ada sesuatu yang salah tengah terjadi dan hal ini biasanya berakhir tragis buat gue. Lebay lu, tong.

Pikir gue ; mungkin dia mau sendiri dulu atau mantannya ngajak balikan lagi. Tapi premis-premis yang mendukung kedua deduksi tersebut belumlah cukup untuk dijadikan petunjuk. Setelah menjalani tirakat 7 hari 7 malem, gue dapet petunjuk untuk nembak doi secepatnya.

Tapi semuanya berubah ketika Negara Api menyerang dan memaksa gue untuk melihat akun facebooknya. Kalian tau apa yang gue liat di timelinenya ?



Wadefak ?!
Dasar monyet bau, kadal bintit, muka gepeng, kecoa bunting, babi ngepet, dinosaurus, brontosaurus !!!

Tiba-tiba si doi jadian sama orang yang dulu pernah deketin dia sewaktu Ospek jurusan di FK. Padahal waktu jaman neolithikum dulu, gue pernah nanya sama dia apa dia juga nyimpen rasa sama orang itu, dan jawabannya "enggak". Akhirnya gue tanya langsung ke si A, dan si A cerita semuanya. Menurut cerita yang gue denger dari si A, dia pertama kali kenal dengan orang itu (sebut aja si B for Babi) sewaktu ospek, yang kebetulan si B juga anak FK di kampusnya. Waktu itu bulan puasa, si A yang awalnya nolak ajakan B untuk buka bareng akhirnya mau juga. Setelah hari ke 4 ospek, si B nembak si A, meskipun malu-malu kucing akhirnya si A nerima. Katanya, "Coba jalanin dulu".

Menurut gue gak ada yang lebih absurd dari cara jadiannya si A dengan si B kecuali ngedapetin friend request di FB dan di bawah namanya tertulis: "2 mantan yang sama".

Ternyata dimata dia selama ini gue cuma sebuah perban yang cuma dibutuhin ketika dia terluka. Giliran udah bangkit, gue ditinggal kaya sempak bekas yang udah sobek dan gak kepake lagi. Alay banget ya ?

Mungkin ini salah gue karena mau di PHP-in dia, atau karena gue sendiri gak sadar bahwa gue juga seorang PHP (Penampung Harapan Palsu). PHP itu mirip kembang api, lu dibuat gemerlap sekejap oleh dia, kemudian dia hilang lenyap dan kamu terkatung di dalam senyap.

Tapi emang aneh ya, gue udah 2 kali nemuin cewe yang bilangnya gak suka dengan cowo, tapi nyatanya malah nyimpen perasaan sama cowo itu. Deduksi gue, cewe itu emang absurd, buat memahami isi hatinya itu sama aja kaya nyari hasil akar kuadrat dari bilangan negatif. Yap, Imajiner.

Yang bisa lu lakuin cuma ngebayangin perasaan mereka itu kaya apa, mencoba menebak dengan asumsi-asumsi yang ada berdasarkan tingkah laku yang gak berpola, dan menghasilkan deduksi-deduksi bias yang gak terungkapkan.

Sekarang si A keliatan lebih cakep setelah jadian sama si B. Kalo kata temen gue, “Jamunya cocok dengan si B yang tampangnya mirip vokalis hijau daun “. Bagi gue, ada orang-orang yang keliatan lebih cakep karena posisi terbaiknya emang sebagai mantan gebetan. Mungkin dia salah satunya.

Banyak banget asumsi-asumsi yang gue buat di tahun 2012 dan berakhir menjadi sebuah deduksi tolol. Di 2013 ini, gue harap ketololan itu gak terjadi lagi dan gak akan membuat ketololan baru.

Awal taun baruan kemaren, gue cukup seneng karena bisa kumpul dengan temen-temen lama, liat kembang api dari jarak beberapa kilometer bareng-bareng, dan adu panco di atas matras berpaku.

Emang banyak sih orang yang ngerayain taun baruan bareng pasangannya, katanya biar romantis. Menurut gue apanya yang romantis kalo yang mereka lakuin cuma duduk diatas motor/mobil dimana setiap pihak sibuk dengan BBnya masing-masing, terdiam ditengah jalan gak bisa kemana-mana karena kejebak macet. Mending juga kaya gue, biarpun single tapi tetep romantis. Contohnya niup satu terompet berduaan bareng…… Tukang terompet.

Di 2012, gue kadang bingung antara harus mengikuti kritik orang lain atau jadi diri sendiri. Mungkin di 2013 gue harus lebih selektif dan rasional dalam bertindak. Ya kalo bisa sih gue ngerasa seneng, dan orang lain juga gak ngerasa terganggu dengan tingkah laku gue. Seenggaknya setiap kali gue bertindak, gak ada lagi orang yang mau nyemprotin baygon ke muka gue.

Gue juga harus lebih selektif dengan siapa gue sharing masalah yang gue hadapi, karena sebenernya hanya sedikit orang yang bener-bener peduli sama kita, sedangkan yang lainnya cuma penasaran sama masalah yang ada.





Cirebon, 6 Januari 2013.




Salam Move-On

Penulis : frosthater ~ Sebuah blog yang menyediakan berbagai macam informasi

Artikel Sebuah Deduksi Masa Lampau ini dipublish oleh frosthater pada hari Sunday, December 22, 2013. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.Terimakasih atas kunjungan Anda silahkan tinggalkan komentar.sudah ada 0 komentar: di postingan Sebuah Deduksi Masa Lampau
 

0 comment:

Post a Comment