Setiap
sekolah pasti punya guru BKnya (Bimbingan dan Konseling) masing-masing, yang
bakal ngebantu siswa untuk lebih mengenal jurusan dan kampus yang (akan)
menjadi pilihannya kelak. Menurut gue, itu aja belum cukup untuk memenuhi
birahi siswa kelas 3 SMA yang haus secara membabi-buta akan informasi
pendidikan tinggi. Berdasarkan pengalaman sewaktu SMA dulu, gue sendiri ngerasa
kurang informasi mengenai kampus-kampus yang ada. Minimnya info tentang jurusan
dan kampus bisa berujung fatal, misalnya terjadi salah jurusan yang dapat
menyebabkan pindah jurusan atau jadi jomblo menahun akibat salah masuk fakultas
yang isinya batangan semua.
Milih
jurusan itu kaya milih cewe, kita harus bener-bener kenal seluk beluknya
sebelum memantapkan hati kita untuk memilihnya. Jangan sampe kita tergesa-gesa,
apalagi kalo cuma ngikutin hasutan temen-temen atau hanya ingin jaga gengsi
sendiri. Akhirnya lu cuma nyiksa diri sendiri dan ujung-ujungnya pindah ke lain
hati (pindah jurusan). Dan ketika lu bimbang di antara 2 pilihan jurusan. Pilih
jurusan yang kedua, karena kalo lu bener-bener jatuh cinta sama jurusan yang
pertama, lu gak bakal jatuh cinta dengan jurusan yang kedua. (Poin ini belum
teruji secara empirik)
Semua
mahasiswa punya cita-cita.Misalnya, jadi Konsultan pertambangan dan gas, jadi
birokrat (PNS), simpatisan Parpol, maupun Distributor MLM. Cita-cita, impian,
harapan, dan pekerjaan kita di masa depan itu ibarat sebuah destinasi dari
perjalan panjang. Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan sebuah rute(jalan)
dan kendaraan yang tepat. Jurusan diibaratkan sebagai jalan yang bakal kita
pake untuk ngejer impian kita, sedangkan kampus adalah kendaraan yang bakal
kita pake untuk sampe ke tujuan tersebut. Misalnya, domisili lu di Bandung dan
tujuan lu ke Jakarta, lu gak mungkin ambil rute via Suramadu untuk ke Jakarta,
tapi lu bisa lewat jalan Tol Cipularang supaya cepet. Ketika rute yang pengen
lu tempuh udah ditetapkan, sekarang tinggal milih kendaraan (kampus) mana yang
bakal dipake untuk melewati rute tersebut. Kalo lu mau ke Jakarta via
Cipularang, lu harus naik kendaraan bermotor roda empat, entah itu mobil
pribadi, bus umum, maupun andong yang dipasang dinamo tamiya, yang pasti
kendaraan lu bukan motor beroda tiga yang biasa dipake ngangkut sayuran. Kalo
lu tetep ngotot naik motor, itu sama aja kaya lu pengen jadi dokter tapi
kuliahnya di ITB.
Ketika vonis
akan pilihan jurusan sudah ditetapkan, dan dalam perjalanan menuju impian
mengalami masa-masa kritis perkuliahan (tugas/ujian/presentasi/dikejer-kejer
calo MLM), biasanya kita (mahasiswa) seringkali ngerasa penat/jenuh terhadap
semua hal yang berbau kuliah. Jika kepenatan mencapai level tertentu, hal ini
bisa berujung menjadi rasa bimbang yang mengantarkan kita untuk
bermalas-malasan, pindah jurusan, atau yang terburuk adalah berhenti kuliah dan
menjadi Agen MLM.
Gue ingetin
broh, yang tersulit bukanlah menentukan pilihan jurusan/kampus, tetapi bertahan
pada pilihan itu sendiri. Masuk kampus lewat serangkaian ujian masuk emang
susah, tapi proses menuju kelulusan jauh lebih susah dan lebih banyak
pertumpahan darah. Ikut USM/SNMPTN dan ujian masuk lainnya itu belum apa-apa
dibandingkan dengan gundukan tugas yang deadlinenya saling berjejer macem
jemuran sempak, UTS dan UAS yang seringkali menyebabkan mahasiswa dilarikan ke
Instalasi Gawat Darurat akibat terserang pedarahan otak, atau Tugas
Akhir/Skripsi yang bikin kantong mata membengkak macem kelenjar ketiak, dan
sidang akhir yang bikin jiwa kita terguncyang disertai keringet dingin yang
berakhir menjadi gagap dadakan di depan pangkuan dosen penguji/pembimbing.
Pastinya akan ada rasa bosan/penat/jenuh yang jauh lebih biadab dari sebelumnya
dan jauh diatas ambang prikemanusiaan.Tingkat kepenatan ini bisa meningkat secara
signifikan jika terjadi pada Mahasiswa yang masuk kampus/jurusan akibat
paksaan/tekanan pihak lain.
Dalam fase
ini pilihannya ada 2 :
1. Berhenti;
atau
2. Berjuang
lebih keras.
Ketika kita
memutuskan untuk berhenti, coba kita berpikir dan renungkan sebentar. “To
quit, or not to quit ? That is the question.”
Sebelum kita
milih untuk berhenti karena stress/depresi, coba liat ke sekeliling kita, dan
pastikan bahwa kita sebenernya tidak dikelilingi oleh orang-orang idiot. Dan
jangan liat seberapa jauh perjalanan (Semester) yang masih harus ditempuh, tapi
liat udah berapa jauh langkah (Semester) yang udah ditempuh dari titik awal.
Kalo lu
ngerasa stress karena selama tingkat akhir ditanyain “Kapan Wisuda?” sama
orang-orang terdekat lu. Lebih baik "Brace your self", dan
yakinkan dirimu juga mereka, "Kalo gue pasti lulus (walaupun entah
kapan)".
Kalo lu
ngerasa malu karena gak bisa lulus bareng temen-temen seangkatan dan terpaksa
jadi mahasiswa veteran karena suatu hal, lu gak perlu malu. Meskipun ada yang
ngatain, “kalo lu bisa lulus SD 6 tahun, tapi kuliah lebih dari 7 tahun,
berarti lu lebih bego dari anak SD” , gak usah diambil pusing. Karena lulus
itu gak perlu tepat waktu, tapi luluslah di waktu yang tepat.
Kalo lu
ngerasa terbebani tanggung jawab dari orang tua sebagai mahasiswa aktif karena
biaya kuliah masih ditanggu mereka. Lu gak perlu khawatir, karena mahasiswa itu
terlatih sebagai makhluk yang kreatif. Kalian bisa nyari objekan di luar
kuliah, seperti ; magang, ngajar les private, atau jadi simpenan janda.
Inti dari
semua tulisan gue diatas adalah, gak peduli seberapa besar effort lu untuk
survive di kampus, ketika lu emang gak niat untuk kuliah di sana, lu hanya akan
nemu alasan untuk berhenti, tapi ketika lu emang niat untuk kuliah di sana, gak
peduli seberapa sulit tantangannya, lu akan nemuin jalan untuk lulus dari
kampus itu.
Ditulis dari sebuah
Kamar sempit yang kalo ditutup hasilnya kepanasan dan kalo dibuka jadi banyak
nyamuknya, 12 Februari 2013.
Salam
Ganteng.
0 comment:
Post a Comment